MASA YANG KU RINDUKAN

Di era tahun-90 an, kala itu aku anak2, beranjak remaja. Adalah segala keseruan dan permainan tradisional ada dan menyenangkan di zamannya
Ya masa dimana aku dan anak2 lainnya sukses dimasanya

Sukseess…..jadi orang kayaa.., hahaha iya kan, eh bukan! (Canda) Tapi sukses jadi anak paling BAHAGIA lahir dan batin.

Tidak bisa di pungkiri ada banyak cerita yg tersaji didalamnya, masa2 itulah yg paling dirindukan

Ketika kita belum mengenal dunia pergadgetan seperti sekarang. Zaman serba canggih

Ya masa2 blm terkontaminasi dan didominasi oleh gadget.

Siapa yang ga tau, sama benda satu ini, dari kakek2 sampai anak baru lahir yang baru melihat pun tidak lepas dari benda satu ini, bahkan menjadi teman bermain bagi anak2 zaman now.

Masa itu aku tumbuh dan berkembangbiak sangat baik… eh salah (canda mulu, emang ayam berkembangbiak)

Ok, next===lanjut

Pada waktu itu aku tinggal bersama paman dan bibiku.

Kemarin… paman datang… pamanku dari desa… di bawakannya…rambutan, pisang dan sayur mayur segala rupa…

Itu lagu ya saudara2…

Ya, pamanku tinggal di pedesaan bernama sumakuyu di sulawesi, sebuah desa yg jauh dari keramaian kota, dekat dengan pesisir pantai dan di kelilingi gunung2 tinggi berlembah dan sungai2 yg besar bebatuan

Pamanku, guru kepala sekolah, juga seorang petani. Bibiku petani, pedagang dan pengrajin kasur, aku memanggil beliau dengan sebutan papa dan mama karna bagiku mereka adalah orangtua ke-2 ku

Di kampungku banyak sekali tanaman perkebunan, seperti coklat, jagung, padi gunung (nanamnya di gunung) dan kelapa yg menjulang tinggi (melebihi tingginya tiang listrik), jambu merah dan putih (bukan bendera ya), dan masih banyak lg (ga usah disebutin satu2 lah ya, jari saya nanti bisa keriting)

Ok, next===lanjut

Ya ini kebiasaanku, suka manjat dan makan buah langsung di pohonnya (bukan monyet ya pleasss, jgn diketawain), apalagi pohon jambu pas depan rumahku berbuah sapa yg ga ngiler coba…

Tiap akhir pekan aktivitas ku sederhana saja, namun sangat menyenangkan, pergi bersama dgn bibiku ke kebun, sekedar untuk memetik buah coklat, dan melihat tanaman disana dan lagì2 manjat pohonku langsung kumat, bila kulihat buah yg matang di pohonnya. Kenapa sih, makan buah sukanya diatas pohon. Jujur saja, aku tidak tau, yg ku rasa, senang aja gitu, entahlah…karna malas naik lg, atau klu mkn tinggal metik aja di pohon berasa pohon itu cm milikku.

Bukan hanya manjat tapi main ayunan dan tiduran pun dilakukan diatas pohon (kenapa ga sekalian aja tuh pohon di jadikan rumah), hahaha…

Tidak hanya kebun milik bibiku, terkadang aku pergi bersama teman2ku ke kebun miliknya, pas liat buah coklat yg matang kamipun tergoda dan memetiknya hehe… ternyata pas buah mau di makan…lupa bawa pisau, (pikirku, gmn cara bukanya, kulitnya kan keras).

Akhirnya terjadilah tragedi…bersama teman2ku, buah coklat kita gebukin rame-rame pake batu besar sampai remuk… habis riwayat tuh buah coklat hiks..hiks..hahaha…

Keseruanku tidak habis disitu saja, berenang sambil nangkap ikan di sungai, jgn pikir kita nangkap ikannya dgn cara mancing, tidak. Tapi langsung nyebur aja ke sungai, tangkap ikannya pake baju sebagai jala nya…kita kepung tuh ikan, sambil teriak…ikannya disana, ayo tangkap…jgn sampai lolos, sampai2 air sungai jd keruh. Begitulah kegembiraan kami.

Setelah berhasil menangkap ikan, ikannya langsung dibakar dan dimakan saat itu jg. Ditemani dan dikelilingi suasana alam yg sejuk ditambah dgn kecerian bersama teman2, selesai juga tuh riwayat si ikan. Inilah kolam renangku bersama teman2ku yg jaraknya tidak jauh dari rumah kami, sungai yg msh asri bersih, di kanan kirinya perkebunan. Masyarakat disini sangat menjaga kemurnian sungai, tidak di izinkan beraktivitas yg bs mencemari sungai, karna sungai disini digunakan untuk membersihkan hasil panen mereka.

Petualanganku blm cukup disitu aja, temanku punya kebo dan kuda, bila ada kesempatan aku menunggangi kebo dan kuda miliknya, memberikan makan, dan memandikannya, mandi bareng kebo, hahaha…

Sebelum naik kebo nya ku ajak ngomong dulu
A: Hai kebo.
Kebo: Booooo… (sahut si kebo).
A: Bo, kalau aku naik jgn gerak2 ya…Nanti ku traktir batang pisang
Kebo: Booooo… (Si kebo cuman bisa bilang begitu yang kuanggap tanda setuju hahaha…)

Suatu hari sepupuku mengajak ku pergi ke gunung, untuk menemui ibunya di sana. Sebenarnya ini pertama kalinya aku naik gunung yg tinggi, seumur-umur selama beberapa tahun aku tinggal disana hanya menikmati pemandangan pegunungan dari jauh, blm pernah naik gunung secara langsung.

Perjalanan menuju kesana cukup melelahkan dan mendebarkan, jalan setapak yang sunyi ditemani hujan, suara-suara binatang, melewati kebun-kebun tetangga, dan menyusuri lembah-lembah yg begitu indahnya

Setelah sekian lama berjalan, kini hujan pun mulai bosan menemani kami, pergi tanpa permisi namun meninggalkan jejaknya diatas tanah hingga menyulitkan kami melewatinya.

Ditengah perjalanan tibalah kami di tanjakan yg agak curam. Rasa tegang pun mulai terasa

Dengan sekuat tenaga kami berusaha melewati tanjakan terjal nan basah karna tanjakan berada di lembah yg tinggi, tanjakan itu tidak ada pohon besar hanya rerumputan kecil yg merayap ditambah tanahnya yg sangat licin
Setelah berungkali naik, jatuh dan terpeleset, kaki dan tanganku sedikit lecet terkena goresan tanah

Sempat terpikir olehku untuk menyerah, dan pulang ke rumah, namun kupikir lg, tanggung udah di tengah jalan

Baiklah, mencari dan mencari di setiap tanjakan, mencoba berbagai trik, lalu akhirnya kami pun menemukan cara yaitu, mengambil tanaman yg batangnya menjalar persis seperti tali dan memotong kayu menjadi beberapa potongan untuk menancapkannya di dinding tanjakan supaya memudahkan kami untuk memanjatnya seperti panjat tebing, kami pun bersyukur berhasil melewatinya

Tibalah kami diatas gunung perbukitan tinggi, dimana bibiku berada disana. mataku langsung tertuju pada pemandangan padi yg menguning kuning tua, menandakan siap untuk di panen, dan tidak jauh, tampak sebuah pondok kecil, berdinding kayu dan lantainya dari bambu, beratap tanaman padi yg padinya udah dipisahkan dari batangnya, di tempat itulah bibiku bernaung. Ketika hendak masuk ke pondok kami langsung menemui dan menyapa bibiku

Assalamu’alaikum…(kami menyapa)
Waalaikumsalam…(bibiku, menjawab)

Sekilas bibiku terkejut melihat kedatangan kami sejenak menatap kami dgn penuh heran, kami yg basah kuyup berlumpur dari muka sampai badan
Bibiku pun mulai bertanya? Kalian habis main lumpur ya???
Ga…bi, habis manjat tanah. sahutku, mendengar jawabanku semua tersenyum
Kamipun menjelaskan tentang kejadian itu

bibiku langsung menyuruh kami pergi ke sungai, mandi dan membersihkan badan

Kuperhatikan sungai yg ada di pegunungan itu tampak berbeda dari sungai yg dekat dgn rumah kami, airnya lebih jernih dan sangat dingin, sungainya pun tidak terlalu besar, byk pohon2 rimbun mengitari sungai itu, daun2nya yg berjatuhan mengikuti arus air yg mengalir

Setelah membersihkan badan, kami di suguhi segelas air hangat, menu nasi merah dan lauk pauknya untuk mengisi perut kami yg sedari td udah lapar, ya bibiku menanam padi beras merah jg rupanya (ucap batinku)

Kuistirahatkan badanku yg sdh lelah, karna perjalanan panjang menyita seluruh tenagaku, kurebahkan badanku sambil membayangkan setiap momen perjalanan itu, sambil kuperhatikan suasana pondok milik bibiku

Tak terasa langit pun merubah warnanya, hitam pekat, matahari meninggalkan bumi, tibalah waktunya, kesunyiaan mulai mendera
Mata mulai meredup dan melipat kelopaknya,

Batinku berucap, selamat datang kesunyian.

kunantikan kembali hari yg cerah, tersirat senyum kecil di hati dan bibirku.

Hari itu telah datang, ketika mataku terbuka dgn mengerutkannya sedikit, kurasakan hangat mentari lagi meninggi menembus celah dinding pondok bibiku, ku tegapkan tubuhku seakan mencari bersama cahaya mentari yg menyinariku, dan kulihat hari itu cerah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Menarik Lainnya